Telaah ini disusun oleh Perkumpulan Amerta sebagai respon atas rangkaian banjir dan longsor yang melanda Sumatra pada 25–30 November 2025. Kajian ini menunjukkan bahwa bencana yang terjadi bukanlah semata-mata akibat cuaca ekstrem, melainkan buah dari kerusakan ekologis yang berlangsung lama: deforestasi skala besar, degradasi lahan gambut, dan melemahnya fungsi daerah aliran sungai. Kondisi tersebut membuat air hujan tidak lagi terserap dengan baik sehingga sungai meluap, membawa sedimen dan kayu gelondongan yang mengubah banjir menjadi arus pemukul yang merusak rumah, jembatan, dan jalur evakuasi. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa apa yang disebut “bencana alam” sejatinya merupakan kegagalan tata kelola lanskap yang sistemik.
Lebih jauh, kajian Perkumpulan Amerta ini mengurai bagaimana struktur ekonomi ekstraktif, lemahnya penegakan tata ruang dan perizinan, serta fragmentasi kewenangan antarlembaga memperbesar risiko—sementara perubahan iklim bertindak sebagai penguat ancaman, bukan penyebab tunggalnya. Telaah ini tidak berhenti pada diagnosis masalah, tetapi juga menawarkan arah pembenahan, mulai dari reset tata kelola hingga pemulihan fungsi ekosistem. Kami mengundang Anda membaca naskah lengkapnya—agar pemahaman yang utuh dapat menuntun pada perubahan kebijakan dan praktik yang lebih adil, berkelanjutan, dan melindungi kehidupan.




