G-ZERO& LIQUID SOCIETY, DAMPAKNYA PADA DEMOKRASI & DIPLOMASI INDONESIA

0
33

Tatanan global hari ini bergerak dalam kondisi G-Zero—sebuah dunia tanpa kepemimpinan global yang efektif, di mana kekuasaan terfragmentasi dan tata kelola multilateral melemah. Dalam konteks ini, persaingan kekuatan besar, khususnya antara Amerika Serikat dan Tiongkok, tidak menghasilkan stabilitas bersama, melainkan mendorong tata kelola ad-hoc, diplomasi transaksional, serta peningkatan risiko global yang bergerak cepat dan tidak merata. Konsep G-Zero yang dikembangkan oleh Ian Bremmer menjelaskan mengapa krisis ekonomi, iklim, dan keamanan semakin sulit ditangani secara kolektif, sementara beban ketidakpastian justru bergeser ke tingkat nasional hingga individu.

Bagi Indonesia, situasi ini beririsan dengan dinamika Liquid Society sebagaimana dikemukakan oleh Zygmunt Bauman, di mana institusi, identitas, dan rasa aman sosial menjadi semakin rapuh. Kombinasi G-Zero dan masyarakat cair menjelaskan mengapa pembangunan terasa rentan, demokrasi cenderung prosedural dan transaksional, serta populisme menemukan ruang tumbuh di tengah ketidakpastian. Namun, di balik tantangan tersebut, Indonesia juga memiliki peluang strategis sebagai kekuatan menengah untuk memperkuat ketahanan domestik, memainkan peran kepemimpinan regional, dan berkontribusi pada stabilisasi kawasan melalui diplomasi berbasis isu dan penyediaan barang publik regional—sebuah agenda yang menjadi fokus kajian terbaru dari Perkumpulan Amerta.

👉 Baca kajian lengkapnya untuk memahami secara mendalam implikasi G-Zero dan Liquid Society terhadap demokrasi, diplomasi, serta pilihan strategis Indonesia ke depan.

Dampak G-Zero Liquid Society Pada Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here